3 Kekayaan Spektakuler Al Quran

Di dalam Ramadhan itu, Allah turunkan al-Qur’an. Tidak sembarangan. Al-Qur’an itu berisikan tiga kekayaan spektakuler. Minimalnya paling tidak ada tiga kekayaan. Bukan sekedar keistimewaan. Kekayaannya bukan sekedar mewah, tapi spektakuler. Ini yang mesti kita yakini.
Yang pertama, petunjuk Allah menjamin hidup manusia untuk selamat dunia dan akhirat. Cobalah, konsep kompas pedoman hidup yang menjamin keselamatan dunia dan akhirat. Ini tidak sembarangan. Ijazah itu kecil, pengakuan pangkat tuh enggak ada nilainya itu dibandingkan dengan al-Qur’an. Dan itu diturunkan di bulan Ramadan, luar biasa. Dan itu bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk orang lain. Anak, istri, yang ada hubungannya dengan kita. Kalau tidak punya al-Qur’an tidak ada jaminan selamat sampai ke akhirat, dan tidak ada jaminan keselamatan lahir dan batin.
Coba saja, banyak orang tua berhasil nyekolahkan anak tapi menjauhkan anak dari al-Qur’an. Apa yang pernah terjadi? Kadang-kadang orang tuanya tidak berharga. Abahaji pernah dengar ada orang ngadu, ngadunya ke abahaji. Tentang Ibunya, tentangan bapaknya yang dikatakan jelek oleh anaknya. Sampai dinilai orang tua tuh gak begitu. Masyaallah katanya orang tua tuh bukan begitu. Abahaji tanya orang tua yang benar menurut kamu seperti apa? Ya, seperti nafsunya itulah. Gitu tapi alhamdulillah, setelah dibawa ayat-ayat, ayat al-Qur’an. Ada hidayah yang masuk sama dia itu. Nyatanya dia keluar dari ruangan itu nangis, dia nangis. Jadi selama ini, orang tuanya tuh jelek (katanya). Hei, orang tua tuh enggak ada jeleknya, orang tua itu ketutupan dengan baiknya orang tua.
Kata Sayidina Abdullah bin Umar, walaupun kamu sudah menggendong Ibumu dari Madinah ke Mekah, dari Mekah ke Arafah, digendong lagi balik dari Arafah ke Mekah, dari Mekah ke Madinah, diceboki, disegalakan, itu belum bisa membalas sekali ngeden melahirkannya ibumu itu. Belum bisa, apalagi ngedennya berkali-kali, bayangkan. Jadi, orang tua tuh jangan ditengok jeleknya. Kenapa? Karena kita lebih jelek daripada orang tua kita.
Kalau al-Qur’an tidak dipakai, pasti dia hilang rasa malu. menjadi culas, curang, malu juga tidak, apalagi takut dengan siksaan akhirat, enggak pakai al-Qur’an, yang dipakainya hanyalah yang penting dapat kepentingannya sendiri.
Yang kedua, al-Qur’an itu kalau dikatakan tadi itu petunjuk hidup, dalilnya hudallinnas. Kemudian yang kedua sumber segala ilmu. wabayyinatin minal huda, petunjuk apa saja, tentang matematika, tentang fisika, tentang politik, tentang hukum. Itu akan menjadi lurus manakala dengan penjelasan dalam al-Qur’an. Tetapi kalau tidak ada al-Qur’an, senjatanya menjadi kejahatan, kekuasaannya menjadi kejahatan. Cobalah itu, hartanya jadi kejahatan, tapi kalau dengan al-Qur’an, hudallinnas wabayyinatin minal huda, terang benderang. Siapa yang pegang senjata, kalau pegang Alquran senjatanya untuk nyelamatin, tetapi jika tidak pakai Alquran, senjatanya pasti untuk membinasakan.
Yang ketiga, Walfurqan, orang yang menggunakan al-Qur’an pasti tampilannya beda, beda, tampilan apa? bukan tampilan fisik, tetapi tampilan pemikirannya beda, tampilan hatinya beda. Itu orang punya Quran. Bagaimana abahaji kita yang tidak mengerti? Ini banyak pendapat ulama, bagi yang tidak mengerti sekalipun, Allah akan kasih hidayah begitu. Asal Rajin baca Quran, nih kita enggak tahu apa arti Fatihah, Apa arti qul a’udzubirabbilfalaq, qul a’udzubirabbinnas, tapi dibaca saja isi Alquran itu, akan diberikan menjadi karakter buat kita.
